Sebuah Kotak Yang Penuh dengan Ciuman

Cerita bermula ketika beberapa waktu yang lalu, seorang pria menghukum putrinya yang berumur 3 tahun, karena telah membuang gulungan kertas kado emas. Uang telah habis, dan ia menjadi marah ketika si anak mencoba untuk menghias sebuah kotak untuk diletakkan di bawah pohon Natal. Namun demikian, keesokan harinya gadis kecil ini membawa hadiah untuk ayahnya dan berkata, "Ini untukmu, Ayah."

Pria itu malu oleh reaksi berlebihan sebelumnya, tetapi kemarahannya berkobar lagi ketika dia tahu kotak itu kosong. Dia berteriak padanya, menyatakan, "Apa kau tidak tahu, ketika kau memberi seseorang hadiah, seharusnya ada sesuatu di dalamnya?" Gadis kecil itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan menangis," Oh, Ayah, kotak itu tidak kosong sama sekali. Aku meniup ciuman ke dalam kotak. Ciuman itu untukmu, Ayah. "


Hati si ayah hancur. Dia memeluk gadis kecilnya dan ia meminta maaf padanya.

Beberapa waktu kemudian, sebuah kecelakaan telah mengambil kehidupan si anak. Si ayah menyimpan kotak emas itu di tempat tidurnya hingga bertahun-tahun dan setiap kali ia patah semangat, ia akan mengambil ciuman imajinasi dan dan mengingat kasih anak yang telah meletakkannya di sana.

Dalam arti yang sangat nyata, masing-masing dari kita, sebagai manusia, telah diberikan wadah emas yang penuh dengan cinta tanpa syarat dan ciuman dari anak-anak kita, anggota keluarga, teman, kekasih dan Tuhan. Siapapun bisa mendapatkannya dan lebih berharga dari apapun termasuk materi, kedudukan, pekerjaan dan status sosial.

Gambar kotak diambil dari sini

Photobucket

Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya

Bulan September ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun lalu yaitu tahun 2007. Bulan dan tahun di mana saya masuk kuliah ekstensi di salah satu universitas negeri di kota Bandung. Cita-cita saya dulu sewaktu lulus D3 adalah meneruskan kuliah, sampai saya bisa mendapatkan gelar sarjana. Karena beberapa hal, cita-cita saya itu harus tertunda. Saya bilang tertunda, karena saya tahu suatu saat nanti saya akan mengejar kembali cita-cita saya itu.

Setelah lulus D3 di bulan November 2005, saya mencoba untuk mengadu nasib di kota Bandung, melamar pekerjaan ke sana ke sini tapi kesempatan untuk bekerja itu belum pernah ada. Ada satu perjanjian yang saya buat dengan ibu saya, ketika saya baru lulus D3. Ibu saya bilang, saya di kasih waktu 6 bulan untuk mendapatkan pekerjaan di Bandung. Kalau masih belum dapat juga, saya harus pulang kampung. Dan jika dalam 6 bulan saya belum mendapatkan pekerjaan di kampung saya, ibu saya mengizinkan saya untuk ke Jakarta.


Setelah 6 bulan usaha itu belum membuahkan hasil. Saya mulai berpikir, apa yang salah dengan saya. Saya lulus dengan IPK yang lumayan, yah diatas standar sedikit. Berdoa sama Tuhan? Saya melakukannya setiap hari. Keadaan itu membuat saya cukup sedih.

Saya menepati janji saya pada ibu saya. saya pulang ke Riau di bulan Juli 2006. Ibu saya bilang, ada lowongan pekerjaan di sana. Dan katanya, ada kenalan di sana, yang akan membantu. Tunggu, tunggu dan menunggu. Dari sekian banyak pekerjaan, sepertinya pekerjaan itu lah yang membutuhkan kesabaran ekstra. Di awal bulan Desember tahun 2006, saya mendapatkan panggilan tes dari perusahaan itu, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit. Setelah melewati beberapa tes, akhirnya teman-teman... akhirnya saya tidak lulus. sedih Harapan untuk segera bekerja hilang. Lagi-lagi saya harus kecewa.

Genap 1 tahun saya jadi pengangguran. Huh istilah yang sangat memberatkan. Saya menyampaikan keinginan saya untuk kuliah lagi pada orang tua saya. Orang tua saya tidak menyetujui keinginan saya itu. Bahkan perjanjian dengan ibu saya itu, tidak ditepati oleh ibu saya. Ibu saya bilang, tunggu dulu beberapa bulan lagi. Siapa tau yang gagal kemarin bisa diurus lagi. Dan kembali saya harus menunggu lagi. Melewati bulan-bulan dengan status pengangguran itu ternyata tidak enak yah. Saya ingat karena keadaan itu, saya jadi sering murung, terkadang saat saya sendiri, saya menangis, ada perasaan depresi dan stres juga. Dan karena saya kecewa dengan ibu saya yang tidak menepati janji, saya jadi sering mengeluarkan perkataan yang saya tahu itu akan menyakiti dan membuat hati orang tua saya bersedih.

Dalam keadaan seperti itu, Tuhan mengajarkan saya untuk bersabar. Karena Tuhan punya rencana indah yang tidak terpikirkan oleh saya. 2 hari sebelum ulang tahun saya di bulan April 2007, saya mendapat surat bahwa saya di terima di perusahaan itu. Dan saya bisa bekerja di akhir bulan Mei 2007. Orang tua saya tentu senang. Dan saat yang bersamaan, orang tua saya menanyakan kepada saya, apakah saya mau menerima pekerjaan itu atau mau mengejar cita-cita saya? Keputusan sepenuhnya ada di tangan saya. Saya kaget campur senang pada saat itu, orang tua saya yang jelas-jelas tidak mengijinkan saya untuk meneruskan kuliah tiba-tiba memberikan saya pilihan itu. Sungguh, kado yangterindah buat saya. Saya putuskan untuk mengejar cita-cita saya.

Beberapa hari kemudian saya sudah di kota Bandung. Saya berencana untuk mencari pekerjaan lagi. Saya ingin membuktikan pada orang tua saya bahwa kesempatan untuk kaum minoritas (red Batak dan kristen) akan selalu ada, tanpa embel-embel koneksi. Dalam waktu 1 bulan di Bandung, saya sudah mendapatkan pekerjaan. Kegembiraan itu belum saya bagi dengan orang tua saya. Karena mereka mengatakan pada saya, untuk fokus kuliah saja tidak usah mencari pekerjaan. Tapi karena alasan tertentu, akhirnya saya mengatakan hal itu pada orang tua saya. Senang rasanya, karena bulan berikutnya, saya bisa menghidupi diri saya sendiri dengan gaji yang ga seberapa itu, tanpa kekurangan tentunya. Bagaimana dengan rencana kuliah saya? Yup, saya melanjutkan kuliah saya.

Dari hal ini saya mendapatkan beberapa pelajaran :
1. Tuhan mengajarkan saya untuk bersabar karena Tuhan mau menggenapi salah satu firmannya "segala sesuatu indah pada waktunya" dan "masa depan itu sungguh ada dan harapan itu tidak akan sia-sia". Saya merasakan hal itu. Mungkin yang membuat lelah adalah tahap proses menunggu waktu itu.
Pada waktu yang tepat, Tuhan akan menjawab. Bisa saja jawaban itu sama seperti yang saya inginkan, atau tidak seperti yang saya inginkan, tapi bisa jadi juga jawabannya malah lebih indah, lebih bagus, lebih dahsyat yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Saya ga pernah tau rencana Tuhan ke depannya buat hidup saya, tapi saya percaya rencana Tuhan adalah rencana yang terbaik. Karena Tuhan bisa melihat jauh-jauh ke depan.

2. Sebagai salah seorang dari kaum minoritas, mungkin beberapa orang akan berpikir, kesempatan untuk bekerja itu kecil tanpa koneksi. Saya ga pernah setuju dengan ucapan segelintir orang mengenai hal ini. Saya memilih mengikut Dia, dan salah satu konsekuensi nya yah saya harus memikul salibNya. Tak perlu kawatir mengenai ini, karena Tuhan itu berkuasa untuk hal apapun di muka bumi ini. Dan ga perlu menyangkal iman cuma untuk mendapatkan pekerjaan.

3. Setelah 1 tahun lebih menganggur, kembali ke Bandung dan mencari pekerjaan lagi, saya tidak pernah berpikir apakah masih ada perusahaan yang mempekerjakan saya. Yang saya lakukan pada saat itu, hanyalah berusaha, tidak mengandalkan kemampuan saya sendiri karena saya tahu Tuhan mau saya mengandalkan Dia dalam setiap pergumulan hidup saya dan berserah sepenuhnya padaNya. Itu kuncinya, percaya sepenuhnya padaNya. Saya berusaha dan selebihnya adalah pekerjaan Tuhan. Terserah Tuhan mau memberikan kesempatan kerja itu atau tidak. Dan dalam kepasrahan seperti itu, kuasa dan mukjizat Tuhan dinyatakan.

Saya cuma ingin berbagi pengalaman saya ini buat siapapun yang mungkin sedang mengalami proses ini. Salah satunya adalah seseorang di sana yang saya kenal saat ini. Jangan kuatir, Bapa kita adalah Bapa yang baik, mungkin kita belum bisa melihat adanya penggenapan rencana indah itu. Tapi percayalah Dia tahu apa yang terbaik untuk setiap anak-anakNya dan kapan rencana indah itu digenapi. Tetap berusaha, semangat dan berserah sama Tuhan yah..... God Bless You senyum

Picture Source : devianart

Photobucket